Senin, 09 Agustus 2021

Karya Han Gagas dan Yuditeha Terpilih sebagai Karya Terbaik Teplok.id 2020

BY Agus Pribadi IN No comments

 



“Saya tetap mengapresiasi Teplok bahwa itu pernah menjadi ruang sastra kita. Tidak pernah akan terhapuskan bahwa Teplok pernah menghiasi laman sastra di Indonesia.” (Yuditeha)

“Harapan saya teplok bisa lanjut apapun bentuknya yang dipilih oleh tim internal teplok.” (Han Gagas)

 

Cerpen “Antara Ayah dan Suamiku” karya Han Gagas terpilih sebagai karya cerpen terbaik Teplok.id 2020,   sementara itu Puisi “Sepatah Kata Ibu” karya Yuditeha terpilih sebagai karya puisi terbaik Teplok.id 2020. Hal itu diumumkan oleh Agus Pribadi sebagai wakil dari tim Teplok dalam acara launching dan Bedah Buku “Antara Sepatah Kata, Cerpen dan Puisi Teplok 2020” pada Minggu 8 Agustus 2021 pukul 19.30 – 21.30 melalui tatap maya zoom meeting.

Buku “Antara Sepatah Kata” ditulis oleh 25 orang penulis, antara lain:

Penulis Cerpen: Sungging Raga, Ken Hanggara, S. Prasetyo Utomo, Pensil Kajoe, Wiwid Prasetiyo, Dewi Sukmawati, Yuditeha, Syukur Budiardjo, Nina Rahayu Nadea, Riswandi, Bagus Sulistio, Mufti Wibowo, Han Gagas.

Penulis Puisi: Yuditeha, Daru Sima S., Agustav Triono, Eko Setyawan, Moh. Rofqil Bazikh, Tjahjono Widarmanto, Raihan Robby, Faris Al Faisal, Budi Wahyono, Irna Novia Damayanti, Nurul Mahabbah, Ikrom Rifa’I, Ryan Rachman

Acara yang dipandu Arsyad Riyadi dan berlangsung sederhana itu dihadiri oleh Indra Defandra dari penerbit SIP Publishing, para penulis buku tersebut, dan dari umum.

Beberapa penulis yang hadir diantaranya: Han Gagas, Yuditeha, Tjahjono Widarmanto, Faris Al Faisal, Ryan Rachman, Nina Rahayu Nadea, dan sejumlah penulis lainnya.

Agustav Triono dan Agus Pribadi yang membedah buku itu secara singkat memiliki benang merah yang sama yakni sebuah karya haruslah memiliki pesan yang hendak disampaikan, bukan sekadar akrobatik kata-kata tanpa makna. Dalam kesempatan itu, Agustav juga membacakan puisi karyanya dan karya puisi terbaik.

Dalam kegiatan tersebut juga diadakan diskusi, yang menghasilan beberapa pemikiran, sebagian diantaranya:

Apapun bentuknya, keberangkatan adalah hal baik, hal tulus yang saya amini baik dan itu sebuah usaha yang mulia. Di dalam hati setiap penulis saya meyakini punya hati mulia seperti itu meskipun terkadang tidak terdukung oleh kondisi atau finansial misalnya, tetapi saya melihat untuk khusus itu ketulusan yang perlu kita lihat, dedikasi terhadap sastra itu sendiri. (Yuditeha).

 

Dalam realitasnya, jagad sastra kita memang masih berkembang karena didukung oleh para sastrawannya sendiri. Apresiator sastra di Indonesia tampaknya memang belum menggembirakan. Walaupun ada pengajaran sastra di sekolah menengah. Walaupun banyak fakultas sastra. Tapi kendalanya memang masih klise sampai sekarang bahwa penikmat sastra itu terbatas. Melihat penikmat sastra yang terbatas ini memang tidak ada pilihan lain kalau kita hendak membangun ekosistem sastra Indonesia ya kita harus membangun jaringan-jaringan sastra yang baik, salah satunya yang dilakukan oleh teman-teman teplok di sini, kemudian ada juga Mas Yuditeha dengan Ide ide. Ini sebetulnya adalah suatu langkah konkrit bagaimana mengembangkan sastra kepada masyarakat kita. Walaupun jangkauannya antara satu dan yang lain berbeda. (Tjahjono Widarmanto)

Keberpihakan seorang penulis menjadi pendorong banyak penulis baik di negara kita maupun di dunia termasuk saya sendiri. Tulisan-tulisan saya lebih banyak tentang keberpihakan pada orang-orang marginal, orang-orang yang dianggap gila misalkan, orang-orang yang ditindas yang terabaikan. Keberpihakan menjadi spirit penting dan itu menjadi premis utama yang selalu saya tulis. (Han Gagas)

suasana zoom meeting

video acara tersebut:





 

0 comments:

Posting Komentar