Sabtu, 31 Oktober 2020

Puisi-puisi Nurul Mahabbah

BY editor IN No comments

 MEMBALUT LUKA

tangisan para papa dalam kemudi kezaliman
pilu ditimang kemiskinan
terbayang-bayang wajah kepongahan
menjerat menginjak menindas jelata 
oh nirkemanusiaan dalam buaian ibu pertiwi
masihkah ada kasih yang tersisa di sepiring risau
masihkah ada sayang yang mengecup duka
dalam balutan cinta
takhta yang cedera terperangkap fatamorgana
bumi masih bersetia menampung bakti dan insaf
langit masih biru di antara gulita dan kelabu

Cirebon, 15 Oktober 2020


SEBUAH MEMORI

Harus dengan apa aku membayar rindu
duhai ingatan
tak pernah rehat barang sejenak
menyedot darah
menyatu dalam dimensi kasih
seolah tak ada ruang dihuni
selain denyar yang mengisi
palung-palung diri

Aku hendak memusnahkan duri yang bercokol
dalam petikan narasi
namun enggan kulepaskan mawar yang bersimpul erat dengannya
Kugali liang sedalam mungkin
sebagai tampungan nyeri
agar tak mencuat ke permukaan
Bilakah ada hati yang menyentuhnya
sedikit saja
Kengiluan kembali mengerang
dan deras hujan membasuhnya
walau begitu menyayat-nyayat
berharap ingatan perlahan disapu hujan sekian malam


Cirebon, 13 Oktober 2020

 

 


 

NYANYIAN PEREMPUAN

Perempuan yang melukis pantai dengan air matanya acapkali lunglai berjalan di keterasingan
Ingar-bingar kota tak jua mampu membobol sangkar yang kerap diburu sejuta mata
ia temukan pulau paling sunyi di ujung khatulistiwa
Tak pernah sekali pun riak-riak di bibir pulau terdengar kecuali sepoi angin yang meniupkan tanda kasih di musim kemarau
Rumput-rumput liar dibiarkannya meninggi
Air matanya berembun di sela-sela kehijauan, di pucuk ilalang sampai mengering dan basah kembali
Di dalamnya timbunan harta karun sulit dijangkau karena tak pernah ada yang mengira dan tak terbaca di segala peta, nirwana yang terpendam di inti bumi
Ia menari dan melukis yang menjelma di ombak puisi
Selebrasi luka yang dikecup pasang semalam begitu mengganas
Tubuh kaku, tatapnya dingin, terkapar digerus gelombang
Sang petualang enggan berkisah tentang penyelaman yang nyaris merenggut nyawa
pula kesempurnaan mahakarya yang dinikmatinya
Itulah mengapa kesunyian adalah nyanyian paling mesra yang diputarnya berkali-kali meloncati batas waktu mekar dan layunya
Hidup dan matinya hanyalah perpindahan jasad
sedang roh tak pernah singgah dari kerahasiaannya


Cirebon, 16 Oktober 2020

 


SIMPUL KEMERDEKAAN

Kemerdekaan ialah puisi yang bertumbuh di gerak lincahmu
Mencari mendapatkan melepaskan
Kau tak terusik celoteh burung-burung yang menyambangi hari-hari
Membebaskan diri dari sangkar kemasygulan
menuju jalan harapan di ruas-ruas kehidupan
Tanda-tanda yang menyemburat saat kausibak bumantara
selalu menjejak dalam benak
Nyalimu berkibar tak gentar dihantam badai
Dan ribuan nyawa kaumiliki menggantikan hati-hati yang telah mati dijajah kenestapaan
Bukan hanya rayuan sukacita mengalun merdu yang hendak menerjemahkan bahagia
Seolah-olah memang tampak menawan
Melukis rupawan dari citramu yang mengindahkan makna tawa dan tangis dari balik gelita dan kirana
Sesungguhnya bahagia selalu wafa dalam napas kesabaran yang indah
Merdeka tak pernah beranjak darinya
Hatimu adalah kemerdekaan di atas segala makna-makna

Cirebon, 13 Oktober 2020

 

 


Nurul Mahabbah bernama lengkap Nur Zulfiani Imamah, merupakan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cirebon. Puisi-puisinya kerap dimuat di Radar Cirebon dan Fajar Cirebon. Aktivitasnya sekarang menjadi guru bahasa Indonesia di SMP IT Al-Muqoddas Sumber Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Alamat sur-el: nurzulfiani.imamah@gmail.com, Facebook Nur Zulfiani Imamah, dan Instagram @nurzulfiani.imamah. 

0 comments:

Posting Komentar