Sabtu, 15 Agustus 2020

Puisi-puisi Moh.Rofqil Bazikh

BY editor IN No comments

 


Tandak

 

tanganmu yang meliuk selalu mengalung di leher

beserta sepotong kain dengan harum melati muda

sebuah suara, suara gendang mengirim

keceriaan ke sudut kepala.

matamu, membalas pandangan lain

mengawini deru-deru gending

 

kau terus berjalan ke arah mereka

mencari orang-orang.

yang namanya sudah kau hafal

sebelumnya. jauh-jauh sebelum

bunyi disulut di sepetak panggung ini

 

sebuah kain

lengung kidung, membelah

dada yang rimbun

bila selembar kain tiba di leherku

maka berlipat kelelakian

mulai tumbuh

 

(2020)

 

 

Siwalan

 

akarmu yang terbantun dari rahim-rahim tanah

kau dengan jari-jari mayang mengetuk ketinggian langit

tubuhmu yang ranggas dan daun menjuntai

selalu dibuat bunting sengat matahari

 

pada ketinggian tubuhmu, sulur-sulur harapan

selalu tercipta. bila kulihat ke bawah

betapa curam betapa diriku hanya kekosongan

kulihat lagi ke atas, rupa-rupanya untuk sampai

di kepalamu harus kucipta tangga baru

 

aku terus menaikmu dengan kata-kata

dengan mantra atau kidung sumbang warisan kakek.

yang sudah melepuh dengan tubuhmu

menyatu dengan urat-urat daun gergaji itu

 

saban pagi dan sore aku mengunjungimu

mengelus kulit yang ranggas

sebagai ayah paling baik bagi anak kita

yang lahir dari lubang-lubang mayang.

hanya pada ketinggianmu, kembali

kuasah kelelakianku

 

(2020)

 

 

 Tanah Garam

 

kincir berputar mengetuk tulang-tulang iga, anakku

matahari yang lahir lurus bedengan itu

sengaja kita geser agak ke barat, tepat di atas kepala

agar terik selalu menyala menyertai doa kita yang melata

tangan kasarku selalu menepis aliran air asin

 

sepetak-sepetak liang tambak, anakku, mendoakanmu

membawa terbang ke langit ke tujuh. kita selalu

berharap matahari membuntingi air asin ini

dan anak-anak angin memutar kepala kincir

atau sekadar menghapus keringat di ujung kening

 

bila datang hujan, anakku, yang lebih basah justru pipiku.

jarum-jarum gerimis seperti mematuk dada

kita hanya menerka berapa tebal hitam awan

berapa banyak bangkai hujan yang berserakan

 

bila derak kincir diam, bila matahari menjelma pualam

kita tidak lagi mencicipi asin garam

 

(2020)

 

 



Pagi, Kampung Halaman

 

bulan turun, matahari naik dari pinggang bukit

angin berteriak dari arah-arah kepedihan

rasakan pagi dengan sujud pohon bodhi

dengan ombak berdebur dan dada berdebar

 

langkah nelayan mengetuk tidur malam

mengawali iring-iringan mesin sampan

hari-hari semakin panjang

kami beranjak dari kesedihan

 

di sudut pagi semua serba baru, selalu biru

menjahit perca-perca harapan

mengamini semua hal yang lahir di pikiran

 

kau lihat! cinta sepasang burung

di lereng-lereng bukit di kedalaman

lembah-lembah. kicau yang parau

sambil mematuk pagi dari timur

 

(2020)

 

 

 

Moh. Rofqil Bazikh Aktif di Kelas Puisi Bekasi. Puisinya juga termaktub dalam pelbagai antologi antara lain Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Bulu Waktu (Sastra Reboan;2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Membaca Asap (Komunitas Seni Sunting Riau), Segara Sakti Rantau Bertuah (Kepri 2019), dan Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019). Selain itu puisinya juga dimuat di pelbagai media cetak dan online. Tahun 2019 menghadiri Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali.

 

0 comments:

Posting Komentar