Sabtu, 18 Juli 2020

OPEN PO BUKU KUMCER “HADIAH ISTIMEWA UNTUK IBU”

BY Agus Pribadi IN No comments




Open Pre-Order (22-31 Juli 2020) 


Buku Kumpulan Cerpen “Hadiah Istimewa untuk Ibu” karya Agus Pribadi (Owner Teplok.id)

Harga PO Rp. 49.000,-

Pemesanan : 085290124307 (wa)

Seratus Pembeli pertama berkesempatan mengikuti “Workshop Literapreneur” dengan Materi :

Tips Menulis Cerpen (Agus Pribadi, Penulis Cerpen)

Strategi Promosi Buku dengan Hypnoselling (Indra Gunawan, S.IP, C.NLP)
Pelaksanaan workshop tanggal 8-9 Agustus 2020 Pukul 19.30 – 21.30 via WhatsApp Grup

Tentang Buku Kumcer ini:


Agus Pribadi adalah penulis yang cukup produktif menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Buku ini adalah kumpulan cerita pendeknya yang ketiga. Sebuah capain yang pantas diapresiasi, mengingat menulis itu tidak mudah dan membutuhkan energi yang besar. Dalam kumpulan cerita pendek berjudul “Hadiah Istimewa untuk Ibu” karya Agus Pibadi ini kita mendapatkan lima belas cerita pendek. Pembaca akan menemukan pelbagai cerita menarik. Silakan membaca dengan penuh bahagia.
Ranang Aji SP, Pengarang.

Hal yang cukup menggelitik dari buku kumpulan cerpen ketiga Agus Pribadi ini adalah gaya bertutur realis yang saya kenal dalam tulisan-tulisan terdahulu Agus Pribadi, belakangan mengalami pergeseran—dalam pengertian meluas—seiring intensinya memasukkan unsur magis dalam beberapa ceritanya. Penting untuk menggarisbawahi bahwa Agus Pribadi terlihat sangat berhati-hati dalam memasukkan unsur magis itu sehingga ceritanya berada di luar genre horor.
Mufti Wibowo, Pengarang

Sabtu, 11 Juli 2020

Dua Orang Raja

BY Agus Pribadi IN 1 comment


pixabay.com

Cerpen Pensil Kajoe

Laki-laki itu duduk dengan menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Kedua matanya menatap langit-langit ruang tamu. Dua ekor cicak berkejaran menuntaskan birahi. Tangan kanannya merogoh jas yang dikenakan, mengeluarkan sebungkus rokok, diambilnya sebatang dan dinyalakan. Asap mulai mengepul dari mulutnya, membubung tinggi seperti cerobong asap kereta api. Ruang tamu jadi bau nikotin, menyengat; membuatku terbatuk  namun laki-laki itu seolah tak peduli dengan kode alam yang keluar dari mulutku.

Sebenarnya aku ingin memprotes kelakuannya, toh ini di rumahku sendiri jadi tak boleh orang lain berkehendak sesuka hatinya tanpa seizin tuan rumah. Tapi, dia adalah tamuku, dia adalah raja yang harus dihormati termasuk dijamu dengan suguhan terbaik. Konon, rumah yang disinggahi tamu itu adalah rumah yang diberkahi oleh Tuhan. Maka, sesiapa yang tak bisa menghargai tamunya dia termasuk orang-orang keliru.

Baru saja rokok yang dihisapnya habis, dia menyalakan lagi, padahal sisa asapnya belum hilang. Bagaimana caraku menegur orang itu, tentu kurang sopan jika langsung memintanya berhenti untuk tidak menyalakan rokok; istriku baru saja melahirkan dan sedang menyusui bayinya, berkali-kali memberi kode dengan suara batuknya. Aku jadi serba salah dengan keadaan ini; antara menghormati tamu, membiarkannya mengisi ruangan rumah dengan asap rokoknya, atau membela istri dan bayiku yang tak boleh menghirup asap rokok diusianya yang masih terlalu dini.

“Oh iya, tadi anda bilang katanya mau lihat-lihat daerah sini?” Aku mencoba mencari siasat agar tamuku bisa keluar rumah tanpa harus mematikan rokoknya.

“Hmm … nanti sajalah, lagi pula udara di luar cukup panas,” mendengar jawabannya, aku memutar otak lagi agar rencanaku membuat asap rokok dari mulutnya tak mengotori rumah.

“Justru aku akan menunjukkan sesuatu pada Anda, dan saat udara panas seperti ini adalah waktu yang tepat. Ayolah jangan sampai Anda menyesal nantinya.”

Dari raut wajahnya terlihat dia mulai penasaran dengan ajakanku.

“Wah, sesuatu apa itu?”

“Ikut aku. Nanti akan kutunjukkan sesuatu padamu. Baru nanti kau boleh komentar.”

Ajakanku kali ini berhasil membawanya keluar dari rumah. Meski pada akhirnya orang itu justru banyak bertanya ini dan itu, tentang apa yang dilihatnya. Aku layaknya tour guide saja.

“Kita sudah sampai di tempat yang ingin kutunjukkan pada Anda,” kataku.

Laki-laki itu terpana melihat di sekililingnya. Pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini. Maklumlah orang kota, setiap hari berkutat dengan deru jalan raya, asap knalpot, bayangan gedung pencakar langit, kemacetan hingga gaya hidup hedonis.

Kubiarkan saja orang itu berjalan mondar-mandir di tepi telaga Dadap, airnya begitu bening, kalau kita melongokkan kepala, seolah sedang berkaca.

“Kau tahu, seharusnya kita seperti air di telaga ini. Begitu bening, tenang dan luas. Kalau toh ada ombak, itu ibarat riak-riak kecil kehidupan.” 

Tak kukira si perokok berat ini gaya bicaranya seperti seorang filsuf.

Hmm … seorang raja yang aneh. Tampak di luar seperti seorang yang tak tahu adab, namun setiap tutur katanya begitu dalam, bahkan menyentil alam bawah sadarku yang selama ini selalu merasa diri lebih baik.

“Sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama di sini, mungkin lain waktu aku akan menyempatkan diri untuk menjelajahi setiap jengkal tanah kampung ini,” ucapnya seraya melirik jam pada ponselnya.

“Wah, kok buru-buru? Padahal hari belum terlalu sore,” kataku sedikit basa-basi.

“Terima kasih. Lain kali aku akan ke rumahmu lagi, boleh kan?”

Mendengar pertanyaan seperti itu, kerongkonganku sedikit seperti tercekat, itu artinya dia akan kembali mengasapi ruangan rumahku.

“Boleh, boleh. Mengapa tidak,” jawabku.

Dari luar kulihat istriku sedang asik mengobrol dengan seorang perempuan di ruang tamu. Begitu aku masuk, perempuan itu duduk menghadap utara, kursi untuk para raja yang datang ke rumahku.

“Mas, mana temanmu itu?” tanya istriku.

“Dia sudah pulang,” jawabku singkat.

“Sebenarnya aku tadi …”

Belum selesai istriku bicara langsung aku potong. Aku sudah tahu arah ucapannya.

“Ya, aku tahu. Kau tak suka dengan asap rokok, apalagi ada bayi kita. Makanya aku ajak dia keluar rumah agar kau dan bayi kita tak terpapar asap rokok terus menerus.”

“Mas, kenalkan ini Rena teman SMA dulu,” istriku mengenalkan teman perempuannya.

Kulihat perempuan yang duduk di hadapan istriku tersenyum. Aku kenal betul dengan perempuan itu, dia istri teman sekantorku, Iwan. Perempuan yang membuat temanku tak betah tinggal di rumah.

“Huh, rasanya aku ingin menceraikannya saja. Untuk apa aku mempertahankannya menjadi istriku,” keluh Iwan suatu hari saat jam makan siang.

“Kalau itu memang sudah jadi keputusanmu, kenapa tak kau lakukan?”

“Tapi masalahnya …” Iwan tak melanjutkan ucapannya.

“Apa?” tanyaku.

“Dia pandai sekali bersandiwara di depan ibu dan ayahku. Rena bisa bersikap sangat manis dan santun di depan mereka.”

“Ya, kau harus mengatakan hal yang sebenarnya pada orang tuamu. Bukankah yang berhak memutuskan bercerai atau tidak itu kau sendiri?”

“Kau tak perlu mengajariku. Masalahnya, kedua orang tuaku justru tak menginginkan perceraian itu. Mereka lebih percaya pada kata-kata istriku.” Nada suara Iwan meninggi terlihat otot-otot di lehernya menegang.

Jangankan Iwan, suami Rena; saban hari bertemu dan mendengar omelan istrinya tentu akan sangat bosan, aku yang hanya seorang rekan kerjanya baru mendengar ceritanya saja sudah bisa membayangkan seperti apa sumpeknya hawa dalam rumahnya. Mungkin sama halnya ketika rumahku dipenuhi oleh kepulan asap rokok dari orang yang bertamu ke rumah.

“Mas Yuda, masih kenal saya kan?” tanya perempuan di depan istriku.

“Ya saya ingat. Kau Rena, istrinya Iwan, bukan?”

Raut wajahnya seketika berubah. Takut kalau rahasia dirinya terbongkar. Dia pasti mengira kalau suaminya telah menceritakan semua kelakuannya padaku.

“I ... iya benar. Mas Yuda teman sekantor Mas Iwan? Suamiku sering cerita tentang Mas Yuda.” Kutangkap nada bicara Rena dibuat-buat agar terdengar akrab padahal kutahu takut aibnya terbongkar di depan istriku yang juga teman sekelasnya dulu.

“Mbak Kinan beruntung banget bisa punya suami sebaik Mas Yuda, tak seperti suamiku,” sambungnya.

Kali ini justru aku yang khawatir kalau istriku lama-lama terpengaruh oleh tabiat buruk Rena apalagi dulu istriku adalah kawan akrabnya. Kata-katanya yang menjelekkan suaminya sendiri di hadapan aku dan Kinan.

Cukup kau bersandiwara di depan mertuamu, tapi jangan berani coba-coba kau bersandiwara di depan aku dan istriku.

Aku menghela napas panjang sambil melangkah ke dalam meninggalkan mereka berdua. Biarlah mereka menikmati kangen-kangenan masa sekolah dulu. Aku percaya pada istriku. Dia sangat jauh berbeda dengan istri Iwan. Itulah sebabnya aku tak ingin berpaling dari Kinan, perempuan yang telah melahirkan jagoan kecil; buah cinta kami berdua.

Hari ini, cukup sudah rumahku dikunjungi dua orang aneh dan menjengkelkan, namun mereka adalah raja di rumahku dan aku tengah menjadi abdi yang harus menjamu Sang Raja dengan suguhan terbaik. Katanya rumah yang sering didatangi tamu, itu tandanya ada keberkahan dalam rumah tersebut.

“Aamiin,” gumamku lirih.(*)

Tumiyang, Pekuncen-Banyumas, 22 Juni 2019




-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PENSIL KAJOE, lahir di Banyumas, 27 Januari. Tulisannya sudah banyak dimuat di koran maupun majalah, baik itu cerpen atau puisi. Laki-laki yang telah membukukan 14 buku antologi tunggal  dan 14 buku antologi bersama. Sekarang menjadi penulis rubric Banyumasan di Majalah berbahasa Jawa di Yogyakarta.

PUISI-PUISI EKO SETYAWAN

BY editor IN No comments


pixabay.com

Almanak dan Sebuah Catatan Perjalanan
1.
pernah kususuri jalan menuju rumahmu,
dan di sana, tak kujumpai apa pun
selain percakapan kita yang mulai luntur.

seperti pendoa yang malas,
kau meminta memangkas rute, dan tentu,
keterlambatan tak bisa lagi kau terima.

muskil jika kita mengulang waktu.

2.
pada almanak yang kau punya,
tiap jengkalnya menuntun pada hal dan peristiwa yang sama.
tak ada yang benar-benar baru.

angka hanya akan tetap berganti angka,
hari akan berganti hari, dan kau
tetap berpulang pada puisi.

hidup adalah tentang bagaimana kita menanggalkan hari ini
dan menyusun rencana untuk esok hari.

3.
cuaca dan percakapan kita, seperti jazirah yang luas.
kau ingin bertualang sementara aku hanya ingin mengulang.

tahun yang baru, adalah tahun-tahun di mana
kau menyusun rencana dan di akhir tahunnya,
kau menyadari bahwa apa yang kau lakukan
tak lain laku yang sia-sia.

4.
tapi, bukankah rencana adalah penunjuk jalan
bagi kita yang tak ingin tersesat?

tak ada yang benar-benar tersesat selain kau percaya pada azimat.
dan tentu kau tahu, di tahun-tahun berikutnya,
rencanamu mungkin juga hanya tinggal rencana.

Karanganyar, 2019.



 Mengeja Sunyi

Aku mengeja sunyi di kepalamu.
Di sana, seorang pengungsi tinggal seorang diri.
Tanpa bekal, tanpa air mata.

Menyeberangi negara adalah hal berbahaya
Kau perlu paspor.
Kau juga perlu membawa seluruh kenangan yang kau punya.

Kau memikirkan negaramu yang porak-poranda.
Tapi dengan mudah kau bisa melupakanku.

Kesunyian di kepalamu menghapus namaku.

Karanganyar, 2020.




 Meneguk Racun

Siapa berhak berkata benar-salah,
jika ayat-ayat masih didengungkan?

Kebenaran seperti halnya belati.
Ia menikam siapa saja jika salah tempat.
Sementara kesalahan begitu suci.

Telinga kita, mendengar suara,
Namun tak mampu menangkap suara diri.
Muskil diuraikan. Seperti puisi-puisi.

Tapi khuldi tetap saja dikudap.
Sebab manusia selalu tunduk pada bahasa.
Seperti meneguk racun,
Salah jika kau hidup, benar jika mati.

Karanganyar, 2020.




EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Alumni Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Surel: esetyawan450@gmail.com.