Jumat, 10 April 2020

Penginapan Kota Tua

BY Agus Pribadi IN No comments


pixabay.com

Cerpen Sungging Raga

Orang-orang menyebut penginapan di tepi pelabuhan Selatpanjang sebagai Penginapan Kota Tua. Penginapan itu berhadapan dengan laut, bangunannya yang kusam karena terlalu lama diterpa angin bergaram, membuat jendela-jendelanya pun tak jernih lagi. Jika dilihat dari tengah lautan, penginapan itu lebih seperti penjara yang menantang siapapun yang berani berlabuh di kota Selatpanjang.

Di depan penginapan terhampar pasar pelabuhan, keduanya dipisahkan jalan yang sepanjang sisinya telah dipenuhi lapak para pedagang. Aroma ikan segar bercampur daging mentah dan sayur-mayur. Becak motor diparkir tak beraturan, terpal dan kursi malang melintang di trotoar sehingga tidak mungkin bagi seseorang berjalan lurus di sana. Pintu penginapan telah dijejali pedagang jam tangan, kue basah, dan agen tiket speedboat. Namun tampaknya hal itu tak mengganggu jumlah pengunjung. Sang pemilik pun membiarkan halaman penginapannya dipenuhi para pedagang, mereka membayar limaratus ribu setiap bulannya sebagai biaya sewa tempat.

Orang-orang yang menginap di sana biasanya para pedagang dari luar pulau. Baik mereka yang berdagang resmi maupun yang berlabuh di tengah malam demi menghindari perahu patroli. Biasanya mereka berada di sana untuk bertransaksi selama beberapa hari. Transaksi itu pun bertingkat-tingkat. Transaksi yang dilakukan di pasar pelabuhan biasanya pedagang grosir barang-barang kebutuhan dasar. Adapun untuk transaksi barang yang lebih terhormat: perhiasan, tawar-menawar proyek, biasanya dilakukan di lobi penginapan atau di ruang pertemuan. Lobi itu telah didesain dengan interior mewah, meja dan kursi yang antik, beragam minuman termasuk bir baik yang oplosan sampai yang diimpor dari luar negeri, dan tentu ada juga wanita penghibur. Sedangkan untuk tingkatan transaksi tertinggi biasanya dilakukan di kamar-kamar khusus. Transaksi jenis ini tidak lain dan tidak bukan adalah ... Narkoba.

Pembedaan ketiga jenis transaksi ini harus diketahui oleh resepsionis. Jika pengunjungnya butuh keamanan ekstra, resepsionis akan menyiapkan kamar khusus yang berderet-deret dan memiliki pintu penghubung, tangga terusan, dan lorong labirin. Hal ini memungkinkan jika suatu kali polisi menggerebek penginapan tersebut, maka orang-orang yang berkepentingan akan dengan mudahnya bersembunyi. Untuk lebih menyempurnakan pertahanan ini, layak diketahui bahwa penginapan ini juga memiliki ruang bawah tanah, dan juga memiliki landasan helikopter di bagian atapnya.

Seperti yang tertulis sebelumnya, resepsionis haruslah seorang yang cakap dalam membedakan para penyewa kamar. Hanya dari sekali tatap, ia harus tahu apakah si penyewa ini hanyalah turis biasa, pedagang besar, kurir barang berharga, atau  seorang mafia. Dengan membedakannya, resepsionis jadi tahu persebaran kamar yang cocok untuk masing-masing kategori. Maka tahulah kita bahwa yang berdiri di meja penerima tamu itu bukan orang sembarangan. Ia dipilih melalui seleksi amat ketat, melebihi ketatnya seleksi pegawai negeri. Menjadi resepsionis Penginapan Kota Tua, berarti menjadi seorang jenius yang diakui kecerdasannya di seantero Selatpanjang.

Akan tetapi, dalam hidup ini memang selalu ada pengecualian, kejutan-kejutan kecil yang tak diprediksi. Dari kejutan semacam itulah sebuah cerita pendek bisa ditulis. Maka pada suatu sore, resepsionis Penginapan Kota Tua mendapat sebuah ujian, ia kebingungan karena tak mampu mengidentifikasi seorang pemuda yang baru muncul di depan pintu. Pemuda ini datang membawa kopor dan memanggul tas.

“Saya ingin kamar di lantai teratas, dan yang menghadap lautan,” kata pemuda tersebut.

Resepsionis memperhatikannya dengan detail. Pemuda ini mengenakan jas tebal berwarna keabuan, perawakannya agak kurus seperti penderita cacingan, pandangannya begitu datar nyaris tanpa ekspresi. Resepsionis melihat-lihat daftar pesanan, tak ada rencana transaksi besar untuk malam ini, berarti orang ini bukanlah ingin berdagang kulit ular atau mutiara. Tapi kalau dianggap pengunjung biasa pun terlalu misterius.

“Sudah?” pertanyaan si pemuda membuyarkan lamunan resepsionis.

“Oh, ya. Kamar... Kamar 605. Persis menghadap tengah lautan. Tapi itu kamar yang paling mahal.”

“Tidak apa-apa. Saya bayar sementara untuk satu minggu, dengan opsi perpanjangan.”

Si pemuda mengeluarkan uang. Transaksi itu pun terselesaikan dengan cepat. Tak lama kemudian pemuda ini sudah berada di kamar yang cukup luas: tempat tidur ganda, ada meja yang dilengkapi mesin pembuat kopi, AC, bath tub, dan tentu saja, jendela yang menyajikan pemandangan laut. Ia tampak bahagia seakan-akan baru tiba di dalam surga.

Sementara di lantai dasar, spekulasi mulai merebak tentang siapa pemuda ini. Spekulasi pertama, sekaligus yang paling berbahaya dan paling mempengaruhi pemilik penginapan, adalah dugaan bahwa si penyewa sebenarnya intel dari kepolisian pusat yang sedang menyamar untuk membongkar jalur narkoba lintas negara. Ia pastilah intel muda berbakat yang sudah punya pengalaman mengungkap jaringan bandar-bandar besar, sehingga merasa aman saja bekerja sendirian. Spekulasi ini membuat resepsionis segera menelepon Bucek, si penjaga pelabuhan, untuk menggali informasi tentang bagaimana si penyewa ini sampai ke Selatpanjang. Bucek, yang dikenal tidak melewatkan satu pun informasi di wilayah kekuasaannya, segera bergerak seperti anjing pemburu. Ia buka lagi manifes dan catatan perjalanan, dicocokkanlah dengan ciri yang disebutkan resepsionis, sampai ditemukan informasi baru, yang sayangnya tak cukup membantu.

“Anak muda itu hanya membawa tas dan kopor. Tas ia bawa ke dalam kapal, kopor ia titipkan ke bagasi. Petugas bagasi hanya melihat lipatan baju, celana, senter, sandal Carvil. Tak ada satu pun benda yang bisa dijual dengan harga tinggi,” begitu penjelasan Bucek.

“Mungkin ada barang bawaannya yang terluput dari kita,” kata resepsionis.

“Ya mungkin saja, tapi itu seperti terdengar kau meragukan kemampuanku.”

Resepsionis memang tak puas, ia memperluas penciumannya, tapi hasilnya nihil di hari pertama. Hari kedua, si pemuda mulai beraktivitas keluar penginapan. Resepsionis menyewa beberapa orang untuk menguntit, tapi tetap tak ada yang istimewa. Dan hari-hari pun berlalu. Si penyewa ternyata tak banyak melakukan hal mengejutkan. Pagi hari ia keluar berjalan-jalan di pasar, berkunjung ke taman kota, lalu kembali lagi dengan membawa bungkusan sarapan nasi padang. Informasi terpentingnya adalah pemuda itu sangat menyukai nasi padang. Selebihnya ia tidak keluar kamar, lebih suka duduk memandangi hamparan laut sepanjang hari seperti seorang introver.

Pelayan kamar yang hilir mudik di sekitar kamarnya, mengakui bahwa penyewa misterius itu tak banyak melakukan kegiatan. “Lebih mirip pengangguran yang berwisata dengan biaya dari harta warisan,” kata seorang petugas laundry. Namun dampak keberadaannya sudah mulai terasa. Sebagai bentuk kehati-hatian, beberapa transaksi penyelundupan dibatalkan, jadwal kunjungan beberapa bandar dari luar negeri juga dialihkan ke pulau yang lain. Pemilik penginapan merasa bangkrut. Ia tak menemukan jalan lain, kecuali menghubungi temannya yang merupakan orang dalam kepolisian, untuk menginterogasi si penyewa misterius.

“Jadi, apa urusan Anda berada di sini?” begitu kata seorang polisi ketika berkunjung ke kamar si pemuda.

“Oh, tidak ada. Saya hanya suka berwisata.”

“Apa Anda punya tugas tertentu?”

Hm, tidak ada.”

“Begini, di wilayah kami, orang yang berkunjung di atas tujuh hari tanpa melapor, harus dipulangkan secara paksa.” Polisi ini jelas berbohong.

Si pemuda, yang mulai merasakan keanehan, segera menjawab, “Oh, sebenarnya saya sudah akan pulang esok lusa. Jadi saya minta izin dua hari lagi.”

Begitulah, dua hari kemudian ia berpamitan kepada resepsionis, membayar sisa tagihan kamar dan laundry. Lalu ia melangkah begitu saja seakan tak ada yang menarik perhatiannya selama ini. Bagi resepsionis, hal ini adalah kekalahan, baru kali ini ia gagal mengidentifikasi informasi apapun dari tamunya. Pelayan kamar bergegas memerika kamar 605 begitu detail, mungkin mereka khawatir pemuda itu menanam kamera pengawas atau alat perekam.

Sementara itu, setelah keluar dari penginapan, si pemuda segera melangkahkan kakinya menuju pelabuhan. Tangannya kini telah memegang tiket speedboat menuju Pulau Batam, yang menjadi destinasi selanjutnya.

Ketika pemuda itu telah berada dalam speedboat yang mulai bergerak, ia masih sempat memandangi lanskap kota Selatpanjang yang kian menjauh. Penginapan Kota Tua tampak kokoh karena merupakan yang paling tinggi dari bangunan lainnya. Ada nuansa misterius yang melingkupi benaknya.

“Memang aneh sebagaimana yang aku dengar,” kata pemuda itu kepada diri sendiri, “tapi, toh aku hanya penulis cerpen.” Kemudian ia pun membuka dan menyalakan laptopnya ...

Ditemani suara laju speedboat di tengah lautan, pemuda itu mulai menuliskan sebuah paragraf pembuka:

Orang-orang menyebut penginapan di tepi pelabuhan Selatpanjang itu sebagai Penginapan Kota Tua. Penginapan itu berhadapan dengan laut, bangunannya yang kusam karena terlalu lama diterpa angin bergaram, membuat jendela-jendelanya pun tak jernih lagi ... (*)
 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sungging Raga tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Pernah kuliah di Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Menulis prosa sejak 2009. Baru saja menerbitkan novel perdana berjudul “Cikuya 15730” (Basabasi, 2020).
           


0 comments:

Posting Komentar