Kamis, 02 Desember 2021

Puisi : Perihal Mencari dan Monolog

BY Arsyad Riyadi IN No comments

Puisi Perihal Mencari dan Monolog
Sumber gambar : pixabay

Perihal Mencari

Pontang panting Jungkir balik Panik Mencari apa? Tidak tahu!! Begitu seterusnya Sampai lelah mati Malaikat bertanya Masih mencari? Tidak lagi Ternyata pontang panting jungkir balikku hanya mencari MATI Pencarian selesai Tamat

...................................................

Monolog

Senja mengetuk Malam menggerutu Fajar berbinar Siang bertukar kabar Ada keasingan yang datang kesiangan Ada misteri yang hadir tak terperi Mulut terkatup Lidah kaku Tak ada dialog Monolog Jadi teman bercumbu

Purbalingga, 1 Desember 2021 - Awal Sebuah Kisah

Senin, 09 Agustus 2021

Karya Han Gagas dan Yuditeha Terpilih sebagai Karya Terbaik Teplok.id 2020

BY Agus Pribadi IN No comments

 



“Saya tetap mengapresiasi Teplok bahwa itu pernah menjadi ruang sastra kita. Tidak pernah akan terhapuskan bahwa Teplok pernah menghiasi laman sastra di Indonesia.” (Yuditeha)

“Harapan saya teplok bisa lanjut apapun bentuknya yang dipilih oleh tim internal teplok.” (Han Gagas)

 

Cerpen “Antara Ayah dan Suamiku” karya Han Gagas terpilih sebagai karya cerpen terbaik Teplok.id 2020,   sementara itu Puisi “Sepatah Kata Ibu” karya Yuditeha terpilih sebagai karya puisi terbaik Teplok.id 2020. Hal itu diumumkan oleh Agus Pribadi sebagai wakil dari tim Teplok dalam acara launching dan Bedah Buku “Antara Sepatah Kata, Cerpen dan Puisi Teplok 2020” pada Minggu 8 Agustus 2021 pukul 19.30 – 21.30 melalui tatap maya zoom meeting.

Buku “Antara Sepatah Kata” ditulis oleh 25 orang penulis, antara lain:

Penulis Cerpen: Sungging Raga, Ken Hanggara, S. Prasetyo Utomo, Pensil Kajoe, Wiwid Prasetiyo, Dewi Sukmawati, Yuditeha, Syukur Budiardjo, Nina Rahayu Nadea, Riswandi, Bagus Sulistio, Mufti Wibowo, Han Gagas.

Penulis Puisi: Yuditeha, Daru Sima S., Agustav Triono, Eko Setyawan, Moh. Rofqil Bazikh, Tjahjono Widarmanto, Raihan Robby, Faris Al Faisal, Budi Wahyono, Irna Novia Damayanti, Nurul Mahabbah, Ikrom Rifa’I, Ryan Rachman

Acara yang dipandu Arsyad Riyadi dan berlangsung sederhana itu dihadiri oleh Indra Defandra dari penerbit SIP Publishing, para penulis buku tersebut, dan dari umum.

Beberapa penulis yang hadir diantaranya: Han Gagas, Yuditeha, Tjahjono Widarmanto, Faris Al Faisal, Ryan Rachman, Nina Rahayu Nadea, dan sejumlah penulis lainnya.

Agustav Triono dan Agus Pribadi yang membedah buku itu secara singkat memiliki benang merah yang sama yakni sebuah karya haruslah memiliki pesan yang hendak disampaikan, bukan sekadar akrobatik kata-kata tanpa makna. Dalam kesempatan itu, Agustav juga membacakan puisi karyanya dan karya puisi terbaik.

Dalam kegiatan tersebut juga diadakan diskusi, yang menghasilan beberapa pemikiran, sebagian diantaranya:

Apapun bentuknya, keberangkatan adalah hal baik, hal tulus yang saya amini baik dan itu sebuah usaha yang mulia. Di dalam hati setiap penulis saya meyakini punya hati mulia seperti itu meskipun terkadang tidak terdukung oleh kondisi atau finansial misalnya, tetapi saya melihat untuk khusus itu ketulusan yang perlu kita lihat, dedikasi terhadap sastra itu sendiri. (Yuditeha).

 

Dalam realitasnya, jagad sastra kita memang masih berkembang karena didukung oleh para sastrawannya sendiri. Apresiator sastra di Indonesia tampaknya memang belum menggembirakan. Walaupun ada pengajaran sastra di sekolah menengah. Walaupun banyak fakultas sastra. Tapi kendalanya memang masih klise sampai sekarang bahwa penikmat sastra itu terbatas. Melihat penikmat sastra yang terbatas ini memang tidak ada pilihan lain kalau kita hendak membangun ekosistem sastra Indonesia ya kita harus membangun jaringan-jaringan sastra yang baik, salah satunya yang dilakukan oleh teman-teman teplok di sini, kemudian ada juga Mas Yuditeha dengan Ide ide. Ini sebetulnya adalah suatu langkah konkrit bagaimana mengembangkan sastra kepada masyarakat kita. Walaupun jangkauannya antara satu dan yang lain berbeda. (Tjahjono Widarmanto)

Keberpihakan seorang penulis menjadi pendorong banyak penulis baik di negara kita maupun di dunia termasuk saya sendiri. Tulisan-tulisan saya lebih banyak tentang keberpihakan pada orang-orang marginal, orang-orang yang dianggap gila misalkan, orang-orang yang ditindas yang terabaikan. Keberpihakan menjadi spirit penting dan itu menjadi premis utama yang selalu saya tulis. (Han Gagas)

suasana zoom meeting

video acara tersebut:





 

Minggu, 08 Agustus 2021

Launching dan Bedah Buku Kumpulan Cerpen dan Puisi Teplok 2020

BY Arsyad Riyadi IN , No comments

 Launching dan Bedah Buku Kumpulan Cerpen dan Puisi Teplok 2020

Sabtu, 13 Maret 2021

Puisi-Puisi Ni’matus Sholihah

BY editor IN No comments

Puisi-Puisi Ni’matus Sholihah




Membaca Matamu

: Kakanda


Pada matamu yang senja

Kutemukan kita

Dalam cerita yang telah purba;

masa lalu


Madiun, 2019



Wijaya Kusuma

: Kakanda


Wijaya kusuma 

yang kautanam di suatu pagi

tumbuh di tubuhku

mekar di dadaku


Kau ; tak pernah tahu


Madiun, 2020



Status


baru saja aku memposting status

di langit malam

agar kautangkap

di layar matamu


di sana puisi menjelma aku

yang menari-nari

mencari celah masuk ke hatimu


sayangnya, 

satu tahun yang akan datang

kita; masih berbahasa isyarat

di layar mata yang telah berkarat


Madiun, 2020



Malam itu Syahdu


malam itu

kata semesta 

bisu kita syahdu


hanya desau angin yang menyampaikan ingin 

sesekali bunyi decit rem sepeda

merayap di telinga


dan kita masih sama enggan mencairkan

separuh sisi malam yang legam

sampai di persimpangan 

jalan menuju rumahmu dan rumahku

separuh malam masih membeku

aku hanya bisa berbisik,

"Sampai jumpa, Nda!" di dalam hatiku


tapi,

malam itu

kata semesta


bisu kita syahdu, Kasihku


Madiun, 2020


Ni’matus Sholihah. Lahir di Madiun pada 1 Maret 2001. Alumnus MAN I Madiun (MAN Kembangsawit)

Jumat, 12 Maret 2021

Merindukan Ayah Tiri

BY Agus Pribadi IN No comments

pixabay.com
 

Cerpen Luhur Satya Pambudi

 

Bersukacitalah hati Fayra. Akhirnya bisa ia miliki ayah yang baik hati, berbeda dengan ayah kandungnya yang entah di mana. Lelaki yang semula dipanggilnya Om Sam itu bersedia menikahi ibunya yang sempat tiga tahun menjanda. Kedua orangtua Fayra berpisah ketika ia berusia tiga tahun. Sosok ayah kandungnya tak cukup mengesankan bagi si gadis cilik. Sesudah Sam menjadi suami ibunya, barulah ia memahami betapa menyenangkannya memiliki ayah sebagaimana dialami teman-temannya. Ayahnya kini senantiasa hadir ketika Fayra memerlukan segala sesuatu. Ia bahkan lebih nyaman mengisi waktu bersama Sam ketimbang ibunya yang sibuk bekerja di luar rumah. Namun, jika sang ibu memiliki waktu senggang, biasanya mereka bisa bepergian bertiga, entah mengunjungi kakek dari ibunya, nenek dari ayahnya, atau sebatas makan di restoran.

Fayra tidak kerap meminta dibelikan mainan baru. Ia sudah bahagia dengan yang dimilikinya dan lebih suka koleksi bukunya yang bertambah. Fayra menjadikan mereka hiburan istimewa bersama sang ayah yang tak bekerja kantoran. Sam dikenalnya sebagai sosok yang terampil mendongeng dan selalu mampu menggembirakan hatinya. Hal itulah yang membuat si gadis cilik terkesan pada awalnya. Sam sendiri jatuh sayang terhadap Fayra hingga senantiasa berhasrat membagikan hal-hal indah kepada sang bocah. Jalan terbaiknya adalah menikahi ibu Fayra dan otomatis menjadi ayahnya.

Kian berwarna cerah hidup Fayra. Sang ibu menghadirkan seorang adik lelaki baginya sekaligus anak kandung Sam. Namun, tak lama berselang kebahagiaan itu mesti luntur dari hidup Fayra. Ibunya kerap terdengar berselisih paham dengan Sam, hingga tiada lagi yang bisa dikompromikan. Fayra pun menghadapi kenyataan pahit kembali. Ibunya berpisah dengan sang suami untuk kedua kalinya. Hal paling menyesakkan bagi Fayra adalah kepergian Sam yang selama sekitar lima tahun menjadi ayah idolanya. 

“Apakah saya masih boleh memanggil Ayah atau jadi Om Sam lagi?” Fayra yang telah berusia sebelas tahun bertanya kepada Sam yang tengah bersiap-siap meninggalkan rumah. Ketika peristiwa itu terjadi, proses perceraian masih belum menemui kata akhir. 

“Tentu aku tetap Ayah bagimu dan adikmu Fariz, meski aku dan ibumu tak lagi bersama. Ayah berharap kita masih bisa sering bertemu,” sahut Sam sendu.

Palu hakim akhirnya meresmikan perpisahan ibu Fayra dengan Sam. Hak perwalian atas Fariz diserahkan kepada ibunya, tapi Sam memiliki hak kewajiban tertentu terhadap anak lelakinya. Begitulah yang ditetapkan hakim. Namun, yang lantas terjadi, ibu Fayra melarang Sam menemui anak-anaknya lagi.

“Kenapa Ayah tak boleh menemui kami lagi, Ibu?” tanya Fayra suatu ketika.

“Ada hal yang belum bisa kau pahami, Nak. Biasakanlah bahwa kita tinggal bertiga belaka di rumah ini. Kita pasti bisa menjalaninya. Oh ya, sebaiknya lupakan saja Sam, eh ayah tirimu maksud Ibu.”

Entah apa alasan sesungguhnya, Fayra tak mampu memahami keputusan ibunya. Apalagi bagi Fariz yang masih berusia balita dan tak mengerti yang sebenarnya terjadi. Di mata Fayra, Sam sangat menyayangi anak-anaknya. Si gadis tak pernah meragukan ketulusan hati lelaki itu. Kehadiran Fariz nyatanya tak mengubah sikap Sam terhadap Fayra yang tetap merasa menjadi putri kesayangan sang ayah. Namun, tampaknya sang ibu melihat sosok yang berbeda. Hal itu membuatnya membenci mantan suaminya dan menjauhkannya dari buah hatinya. Ia bagaikan tak peduli perasaan Fayra dan Fariz yang kehilangan figur ayah nan baik.

 

***

Fayra akhirnya terbiasa menjalani hidup tanpa kehadiran ayah dalam keluarganya. Sepuluh tahun berlalu, usianya sudah dua puluh satu kini. Kendati demikian, segala kenangan masa kecilnya bersama Sam masih tetap bersemayam dalam hatinya. Terkadang kerinduannya terhadap ayah tirinya sedikit terjawab dengan membolak-balik album foto keluarga yang tersimpan rapi di kamarnya. Riang pula hati Fayra kala membaca sejumlah cerpen dan puisi karya Sam yang beberapa kali hadir di media massa. Ia memang penggemar sastra sebagaimana mantan suami ibunya. Betapa ia berhasrat mengajak Fariz menjumpai Sam, toh ia bisa menanyakan alamat rumahnya kepada redaktur media yang memuat karyanya. Namun, ia tak bisa membayangkan reaksi keras ibunya jika sampai mengetahui hal itu. Fayra pun mengurungkan niatnya. Sang ibu sendiri sempat memiliki kekasih lagi, tapi tanpa berlanjut ke pelaminan.

Suatu ketika Fayra mendapatkan kejutan dari Fariz yang telah duduk di bangku SMP. Situs jejaring sosial tengah mulai mewabah dan diikuti berbagai kalangan dalam beragam usia.

“Kak Fayra tahu tidak, aku baru saja diajak berteman oleh siapa di Facebook?” ucap Fariz yang sore-sore baru pulang dari warnet. Ketika itu akses penggunaan internet di rumah belum jamak terjadi. Fariz dan kakak perempuannya bercakap-cakap di kamar Fayra.

“Siapa, Dik? Model cantik remaja yang kau sukai itu, ya?” sahut Fayra tersenyum.

“Bukanlah, Kak. Itu sih, aku yang mengajaknya berteman. Hehe…”            

“Lantas siapa dan apa istimewanya?”

“Samiaji Dipayana, Kak.” Mata Fariz tampak berbinar-binar.

“Hah, Ayah? Jadi, kau sudah berteman dengannya?”

“Iya, Kak. Kami bahkan sudah bertukar nomor telepon dan akan bertemu nanti, meski belum tahu harinya. Senang rasanya berhubungan dengan Ayah lagi.”

Sesak mendadak dada Fayra. Gerimis turun dari matanya. Bahagia, sedih, dan entah apa saja yang serta-merta membanjiri relung kalbunya. Lekas dipeluknya belaka sang adik seraya menangis tanpa sanggup berkata-kata.

“Kenapa Kak Fayra malah menangis?” tanya Fariz yang terlalu hijau untuk memahami.

“Hiks… Aku bahagia buatmu, Dik. Akhirnya kau bisa bertemu lagi dengan ayah kandungmu. Hiks… Kira-kira Ayah tahu tidak ya, jika aku pun merindukannya? Kau tahu kan, aku juga ingin sekali menjumpainya.”

“Jangan sedih, Kak. Beliau kirim salam kangen kok, buat Kakak.”

Jawaban Fariz disambut Fayra dengan senyuman. Ia melepas pelukannya dan mulai menghapus air matanya. Fayra menepuk punggung Fariz yang berdiri di hadapannya. Dalam hati ia bersyukur karena jalan terbuka baginya melihat kembali ayahnya. Mantan ayah tiri, lebih tepatnya.

“Tapi Kak, bagaimana jika Ibu sampai tahu? Kakak bisa merahasiakan hal ini, kan?”

“Fariz, tentu Kakak akan menjaga agar pertemuanmu dengan Ayah tak sampai ketahuan Ibu. Kita berdoa sajalah, mudah-mudahan Ibu sudah berubah dan membolehkan Ayah menemui kita lagi.”

Yang terjadi kemudian, Fariz bersua dengan ayahnya seorang diri hingga dua kali. Ia lantas mengajak kakaknya pada pertemuan ketiga. Fayra menyambutnya dengan riang, senyampang memiliki waktu senggang. Sebelumnya, ia sudah menjadi teman Sam di Facebook, tapi baru sempat berbasa-basi belaka. Fayra dan Fariz menjumpai Sam di sebuah restoran yang pernah kerap mereka kunjungi ketika masih menjadi sebuah keluarga.

Harapan yang sekian lama terpendam lambat laun menjadi kenyataan jua. Fayra akhirnya bisa bertatap muka kembali dengan Sam yang senantiasa dirindukannya sepanjang satu dasa warsa.

“Ayah bisa saja memilih tempat ini. Sejak Ayah pergi, kami tak pernah kemari lagi.”

Begitulah kalimat pembuka Fayra kepada Sam setelah mereka bersalaman dan berpelukan. Ia tak mampu menahan keharuan. Gadis itu sempat kesulitan akan berucap apa, saking banyaknya hal yang tersimpan dan ingin ia bagikan. Rada kagok juga rasanya mengingat dahulu ia masih bocah dan kini sudah kuliah. Namun, candaan khas dari Sam membuat suasana beranjak menghangat. Fayra dan Fariz bahkan bisa bergantian berbagi cerita kepada ayahnya. Sam lebih banyak tersenyum mendengarkan curahan hati anak-anaknya. Sesekali, lelaki kalem itu menimpalinya dengan nasihat, meski terkadang ia menanggapinya dengan kata-kata yang menyegarkan. Fayra pun merasa memiliki sebuah warna cerah baru yang memperindah dunianya. Sehabis itu ia lebih kerap berkomunikasi dengan Sam, biarpun sebatas lewat Facebook maupun SMS semata.

Dua bulan telah lewat sejak Fayra berjumpa kembali dengan Sam. Gadis itu memberanikan diri bertanya kepada ibunya tentang kemungkinan pertemuan antara dirinya maupun Fariz dengan Sam. Fayra telah membekali diri dengan doa agar tegar hatinya menghadapi apa pun reaksi sang ibu.

“Nak, sebenarnya Ibu sudah lama memikirkannya. Berkali-kali Ibu merenungkan semua yang pernah terjadi. Selama ini mungkin Ibu kurang tepat dalam memperlakukan kalian, terutama ketika melarang Ayah menemuimu dan Fariz. Kekhawatiran yang Ibu miliki di masa silam ternyata tidak beralasan. Maafkan Ibu ya, Nak.”

“Jadi, Ibu tidak marah sekiranya aku dan Fariz berjumpa dengan Ayah?”

“Temuilah Ayah kapan pun kalian mau. Ibu tidak akan keberatan, toh kalian sudah sering melakukannya, bukan?” Sang ibu mengatakannya dengan senyuman.

“Hah, jadi Ibu sebenarnya sudah tahu? Wah, Fariz pasti sangat gembira dengan hal ini.”

Tanpa sepengetahuan Fayra dan Fariz, ibunya telah berbicara empat mata dengan Sam. Sang ibu menyadari kesalahannya dan bersedia berbesar hati mendatangi mantan suami keduanya untuk meminta maaf. Ia mempersilakan Sam berhubungan kembali dengan anak-anaknya tanpa halangan. Kejadian itu berlangsung tak lama sehabis Fariz menjadi teman ayahnya di Facebook. Sang ibu bahkan berupaya berteman baik lagi dengan Sam, tentu demi masa depan anak-anak mereka. Fayra mensyukuri perubahan besar yang terjadi pada ibunya.

Setelah hampir dua tahun Sam bisa bercengkrama kembali dengan anak-anaknya, mendadak tersiar kabar duka. Ayah kandung Fariz itu terkena serangan jantung dan padam nyawa ketika tengah bertugas di luar kota. Fayra tiba-tiba merasakan kehampaan bersemayam dalam kalbunya. Ayah tiri yang pernah sangat dirindukannya pergi lagi, tapi kali ini tanpa asa menjumpainya kembali.(*)


------------------------------------------------------------------------------                                                                                                                                                

Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring, seperti Suara Merdeka, Tribun Jabar, dan kompas.id. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

Sabtu, 13 Februari 2021

Puisi-Puisi Efen Nurfiana

BY editor IN No comments


Ladang Dada Ibu

 

ladang dada ibu sore hari

meniupkan semilir angin

selepas pedar tubuhnya

menghapusku dari warna langit

 

aku merunduk sebagai mata padi

gontai menampung gelisah dari seutuh diriku

dan kedalaman hati yang menanam jantung harapan

tumbuh sebagai hasrat yang menyempitkan diri

 

2020

 


 

Antara Tua dan Usia

 

sampai kukawini seluruh usia

kau tetap memudar di bawah bibirku

saban hari kita berdekapan dalam lembah pasrah

hingga malam yang telah begitu tua

mati serta hilang di mata kita

dan kita saling menghampiri

di antara angin dan ingin

di antara tua dan usia

di antara keranda dan doa

 

2020

 


 

Santapan Hujan

 

dua bocah menyerahkan tubuhnya untuk santapan hujan

direlakan kulit dan hasratnya ditusuk

disayat-sayat angin

untuk kemudian disajikan bersama gigil

kisut ujung jemari memberi pucat bibir

saat malam datang menyelimuti meja

pada piring yang ditempa kesunyian

dua bocah itu berbaring, menunggu giliran sesiapa

yang akan dilahap demam

kemudian yang lain berdoa

agar senantiasa hangat dan selamat

 

2021

 


 

Akal Kuda

 

tiba-tiba saja saya melihat tubuhmu

di wajah yang temaram

dan lidah saya tidak dapat mengandung akal yang murni

sewaktu dada dan perasaanmu lebam

seekor kuda saya biarkan lari-menerjang

sedangkan tak nampak kau menjerit, meranggas kesakitan

 

saya yang diekori banyak kemiskinan

tak dapat membangun ruang kesadaran

saya nyaris tak ada lantaran memotong senyummu

yang tak lain adalah bagian sukma tubuh saya

dan kuda yang mengarah kepadamu

dengan amarah mementalkan saya ke langit-langit

tempat segala saya kau terbangkan melalui doa

 

2021


 

Efen Nurfiana, lahir pada tanggal 14 April 1996. Bergiat di Komunitas Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Karya-karyanya  pernah termuat dalam beberapa antologi dan koran. Facebook: Efen Nurfiana.

Jumat, 12 Februari 2021

Metamorfosis Bidadari

BY Agus Pribadi IN No comments

pixabay.com


 Cerpen Gusti Trisno


Penduduk di wilayah dekat Sungai Sampeyan benar-benar sibuk di November yang basah. Pasalnya, kawanan ular mengincar rumah mereka. Beruntung, taburan garam yang telah didoakan oleh sesepuh desa tersebar di depan dan belakang rumah. Jadi, kawanan ular itu tidak berani mampir sejenak di rumah-rumah mereka yang berbentuk pekarangan panjang.

Kecuali di rumah Yopo. Lelaki yang tidak tampan itu sering kali menjumpai ular di berbagai ruang di rumahnya. Mulai dari dapur, ruang tamu, bahkan kamar tidurnya sendiri. Anehnya, Ibu Yopo tidak begitu terganggu. Sementara Yopo, sebagai anak satu-satunya di keluarga. Ia malah takut bukan kepalang dan berlindung di bawah ketiak Ibunya. Benar-benar payah lelaki itu!

Hingga ketakutan demi ketakutan yang membayang Yopo terbawa di dalam mimpi. Dan di sana ia bertemu bidadari.

****

 

Sungai Sampeyan selalu membawa cerita indah bagi sekawanan bidadari di masa lalu yang sering mandi di airnya yang bersih dan deras itu. Tak ada yang mengetahui hal itu. Kawanan bidadari dari kayangan selalu menyempatkan mampir mandi setelah perjalanan jauh ke berbagai tempat. Ibaratnya sungai Sampeyan adalah terminal para bidadari.

Di sana mereka tertawa, berbagi cerita dengan begitu lepasnya, juga terkadang berbicara makhluk bumi yang tidak punya kecantikan dan kegadisan yang abadi.

Hanya saja, satu hal yang mereka lupa. Di ujung sana, terdapat pemuda yang sedang mengintip dari kejauhan. Pemuda yang bernama Yopo itu berdecak kagum dengan pemampilan para bidadari, ia serasa digoda oleh paras perempuan yang sedang menikmati keindahan Sampeyan itu.

Dan, Yopo segera teringat kisah Joko Tarub atau Arya Menak versi Madura bahwa ia harus bisa mendapatkan selendang bidadari. Satu saja. Dengan begitu mereka tidak bisa terbang ke kahyangan. Lalu, Yopo tinggal menawarkan bantuan. Barulah mereka akan menjadi sepasang suami-istri. Tentu, pemuda yang tidak tampan itu tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan Joko Tarub atau Arya Menak. Di mana tokoh legenda itu menaruh selendang bidadari di lumbung padi. Hingga suatu ketika Nawang Wulan menemukan selendang tersebut.

Ahh. Yopo mulai berandai-andai.

Padahal, lewat cerita di masa lalu ia tidak akan mendapat apa-apa. Kecuali, ia mau berpikir lebih kritis dulu. Sebab, bukankah masa lalu itu ada supaya kita lebih waspada?

Akhirnya, pemuda yang memiliki nama belakang William itu segera mendekat ke tempat mandi para bidadari. Anehnya di sana tidak ada salendang. Yopo bingung, bagaimana mungkin ia bisa hidup abadi dengan para bidadari jika selendang mereka tak ada yang bisa diambil.

****

 

Yopo terbangun dari mimpi panjangnya. Jam di dinding kamar lelaki itu masih menunjukkan pukul dua pagi. Sebuah waktu yang sarat akan ketenangan dan daya magis. Ia segera memijit kepalanya yang begitu pusing akibat mimpi tidak jelas itu. Apalagi, sepenggal mimpi itu butuh dilanjutkan agar kisah yang didapat Yopo tidak berakhir menggantung.

Tapi ... untuk melanjutkan mimpi. Yopo harus bersabar sejenak. Pasalnya, adik kecilnya yang berada di tengah pusat tubuh seperti meminta untuk mengeluarkan air kecil. Dan, lelaki itu segera menuntaskannya menuju kamar mandi.

Surprise! Mungkin itu kata yang tepat mewakili Yopo, sebab di kamar mandi yang berukuran lebih sempit dibanding kamar tidurnya penuh dengan ular air berjumlah tujuh ekor. Yopo menahan sesak. Ia segera berteriak. Tapi, di rumah itu ia hanya tinggal dengan Ibunya yang begitu letih akibat pekerjaan sedari pagi di sawah. Tak ada yang bisa membantu Yopo saat ini. Hanya satu di pikiran Yopo. Mungkinkah ular itu menjadi salah satu media yang membuatnya meregang nyawa. Mengingat mati, Yopo langsung lemas seketika.

****

 

Putra William itu terbangun tak jauh dari tempat para bidadari mandi. Ia menatap sosok perempuan yang cantik-cantik itu. Dari pengamatan lelaki yang ditinggal ayahnya sejak masa kanak-kanak itu, ia dapat mendeskripsikan bahwa sosok bidadari memiliki kulit yang licin dan halus. Enam dari tujuh bidadari itu segera keluar dari arena mandi, mereka pergi ke balik semak-semak. Sementara satu bidadari tetap bermain air.

Dan, di sana Yopo kembali serasa digoda bidadari. Apalagi, bidadari yang memiliki rambut panjang, paras yang menawan itu sanggup membuatnya terbang ke atas cakrawala melewati terowongan Casablanca, dan menembus galaksi bima sakti. Sehingga Yopo menjadi lebih ulala.

Duh! Seharusnya Yopo berfokus pada bidadai yang tersisa satu itu.

Pun, setelah Yopo fokus. Lelaki itu melihat bidadari semakin bertambah kecantikannya. Apalagi kulitnya mengelupas satu per satu, seakan-akan bidadari itu melakukan proses shedding atau berganti kulit. Proses shedding itu begitu lama, sebab dari detak jantung Yopo yang sengaja dihitung menunjukkan persentase 35.000 detik. Duh, lama nian. Tapi, dari sana Yopo semakin yakin jika rahasia bidadari bisa memiliki kecantikan abadi. Salah satunya karena proses shedding itu.

****

 

“Ah, ngawur mimpi kamu!”

Ibu tak percaya dengan mimpi yang baru saja dijelaskan oleh anaknya. Bukan apa-apa.  Berdasarkan pedoman mimpi yang telah dirawat Ibu. Perempuan yang telah menjanda sebanyak enam ratus bulan itu mengetahui jika mimpi adalah bunga tidur.

Apa yang menjadi mimpi dari anaknya itu hanya karena si anak pingsan di dalam kamar mandi yang katanya penuh dengan ular.

“Jika memang itu mimpi adalah bunga tidur? Bagaimana dengan ular-ular itu?”

“Kalau itu memang bukan mimpi. Fakta membuktikan jika rumah kita sering dikunjungi ular. Walaupun garam sudah ditabur di mana-mana.”

“Apa mungkin ular tidak takut garam?” Yopo kembali bertanya.

Ibu tak berani menjawab, perempuan yang masih ayu itu hanya menatap pintu di luar rumah yang telah kedatangan tujuh ular.

“Pergi kalian! Aku dan anakku sedang sarapan! Jangan ganggu!”

Yopo menoleh ke arah pintu rumah. Tidak ada apa-apa di sana. Yopo jadi merinding, Ibu berbicara dengan siapa?

Untungnya perhatian Yopo segera beralih pada sebuah pesan WA yang dikirim mantan pacarnya. Pasti kalian sebagai pembaca yang budiman ingin mengetahui isinya, kan? Baik, saya sebagai penulis akan menuliskannya di sini.

Terdapat anggapan jika ular takut terhadap garam, hal ini dikarenakan selama ini berkembang pendapat bahwa ular memiliki kulit yang licin, lengket, dan berlendir. Jadi, untuk mematikannya harus ditaburi dengan garam. Namun, kenyataannya kulit ular tidak berlendir sehingga tidak akan takut  terhadap garam.

“Jadi, usaha kita selama ini sia-sia, Bu?”

Yopo berhenti sejenak atas pesan WA yang baru dibacanya.

Ibu mengangkat satu alis, bingung dengan pertanyaan Yopo yang tak jelas karena tidak memenuhi SPOK.

Yopo pun segera memberikan android keluaran terbaru pabrikan China itu.

Ular cenderung menghindar dibanding menyerang ketika bertemu manusia. Kalaupun ular sampai menggigit atau menyerang manusia, tentu ada yang salah dari manusia tersebut. Entah itu, menggoda atau tidak sengaja mengancam ular. Seperti kesenggol atau keinjak.

“Oh... baca tentang ular? Jadi, karena kita tidak mengganggu mereka. Mereka tidak mengganggu kita kan? Simpel kan?”

“Loh, bukan itu maksudku?”

“Terus?”

“Ah... sudahlah Ibu pergi ke sawah saja. Aku akan berangkat sekolah.”

Majelis sarapan pagi itu segera berakhir. Ibu kembali ke sawah dan Yopo menyusuri langkah menggapai sekolah. Sepanjang perjalanan pemuda unyu itu berpikir mengapa akhir-akhir ini ia begitu ketakutan bertemu ular dan mimpinya juga kian runyam.

Di tengah langkah menuju sekolah, ia tak sengaja berpapasan dengan perempuan yang serupa bidadari di mimpinya.

“Kamu?”

“Aku?”

“Iya, kamu?”

Dialog-dialog itu keluar saja dari balik mulut Yopo, serupa ciri khas seorang pelawak di layar kaca. Tapi, keterkejutan bertemu perempuan itu jauh lebih dalam. Dan, Yopo yakin ia tidak sedang bemimpi saat ini.

Yopo pun segera mengusap telapak tangan, lalu mengulurkan tangannya.

“Yopo.”

Perempuan itu menyambut dan segera mengucapkan nama lengkapnya.

Saat mengucap nama, Yopo seolah-olah terbang ke masa lalu Arya Menak atau Joko Tarub dalam legenda. Bagaimana tidak nama perempuan itu Nawang Wulan. Perempuan yang sanggup membuat Arya Menak dan Joko Tarub menggambil salendangnya karena tergoda kecantikan yang luar biasa.

Begitupun Yopo, sekalipun ia tak bisa mengambil salendang yang dimiliki Nawang Wulan di depannya. Tapi, Yopo sudah tenggelam dalam lautan cinta sekali menatap mata perempuan itu.

****

 

Yopo tersadar setelah mengalami perjalanan yang serasa begitu jauh. Baju yang dipakainya masih seragam sekolah berwarna putih abu-abu. Tapi, tempatnya kini bukan di sekolah. Melainkan di pinggiran sungai Sampeyan. Di sana, tampak para bidadari mandi dengan begitu riangnya. Anehnya, Ibu yang tadi ke sawah begitu akrab dengan para bidadari.       

Yopo tersenyum, ia merasa bidadari begitu nyata. Bidadari bukan dongeng belaka. Tapi, ibunya sendiri adalah salah satu dari mereka. Ia percaya itu. Dan, sudah pasti nantinya si Ibu akan menawarkan salah satu bidadari untuk menjadi istrinya yang abadi.

“Yopo, sini mandi bareng Ibu dan teman-teman!” ajak Ibu.

Yopo kaget ternyata ibu yang sedemikian dicintanya itu mengetahui keberadaan lelaki yang tidak tampan itu. Ajakan ibu begitu melambungkan kesenangan yang luar biasa.

Dan, ketika Yopo mengulurkan tangannya pada Ibu. Sontak semua bidadari yang berada di depan Yopo, termasuk ibunya sendiri berubah menjadi ular. Yopo mengucek mata. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Di sana para ular mulai berganti kulit. Ada yang menjadi lebih agresif dan seakan-akan mau menyerang ular di sekelilingnya, ada yang merasa terganggu dengan kehadiran Yopo, bahkan ada yang berusaha melukai Yopo. Untung ibunya yang menjadi ular itu berhasil melindungi Yopo. Saat itu Yopo ingin menangis dan bertemu Nawang Wulan datang pada saat yang tepat.

“Terima kasih.” Ucap Yopo, ketika Nawang Wulan berhasil menyelematkannya.

Sependek pengetahuan Yopo, ular berganti kulit karena untuk menggantikan jaringan yang mati, hal itu terjadi secara terus-menerus selama ular hidup. Lelaki itu masih hapal benar penjelasan guru biologi di sekolah menengah atas yang ia makan bangku sekolahnya.

“Kamu kok bisa di sini?” tanya Yopo, setelah letak ketakutannya terhenti.

Nawang Wulan tak menjawab, malah kulitnya mengelupas terganti dengan jaringan kulit baru yang lebih menawan. Yopo kembali mengingat mimpinya. Tapi, nawang Wulan di hadapannya sekarang bukanlah mimpi.

Sontak Yopo kembali takut. Bulu kuduknya merinding, ia berusaha kabur. Tapi, Nawang Wulan menahan. Hanya saja, sekarang Nawang Wulan tak lagi menjadi manusia melainkan ular.

Yopo memegang kepalanya yang pusing, berharap tragedi ia yang seakan-akan digoda bidadari yang nyatanya seorang ular itu hanya mimpi belaka.(*)

            Malang, 9 Januari 2021

 

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Gusti Trisno.
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang yang memiliki nama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi.  Peraih juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016 dan Penerima Anugerah Sastra Apajake 2019. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul “Seperti Skripsi, Kamu Patut Kuperjuangkan” (Elexmedia Komputindo).